Jumat, 29 Agu 2025 14:03 WITA
Selasa, 13 Feb 24
Ilustrasi pekerja gudang gula. (Istimewa)

Karsaraya.com – Kementerian Perdagangan memastikan impor untuk kebutuhan pemenuhan bahan baku industri dan gula konsumsi yang setara dengan gula kristal putih (GKP) aman pada 2024.

Pernyataan ini dilontarkan untuk menanggapi Thailand yang memangkas perkiraan produksi sebesar 500.000 ton menjadi 7,5 juta ton untuk musim giling 2023—2024.

Direktur Impor Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Arif Sulistyo mengatakan produsen yang melakukan pemasukan gula dari pasar global sudah melakukan diversifikasi sumber pasokan, sehingga pasokan impor gula tidak hanya didapatkan dari Thailand.

Dalam rangka menjamin kepastian pasokan dan ketersediaan, produsen yang melakukan pemasukan gula dari pasar global sudah dari jauh hari melakukan diversifikasi sumber pasokan, di mana sumber pasokan bertambah negara asalnya seperti Australia dan Brasil, dari yang sebelumnya didominasi oleh Thailand dan India,” ujar Arif kepada Bloomberg Technoz, Rabu (7/2/2024).

Terlebih, terdapat kenaikan tajam produksi gula di Brasil. Kenaikan produksi di Negeri Samba dan India diperkirakan dapat jauh melebihi dan mengompensasi penurunan produksi dari Thailand.

Arif mengatakan, gula termasuk dalam komoditas yang ditetapkan di dalam neraca komoditas. Berdasarkan neraca komoditas, kebutuhan gula yang dipenuhi dari impor untuk 2024 adalah sebesar 5,4 juta ton.

Angka tersebut utamanya untuk pemenuhan bahan baku industri sebanyak 4,7 juta ton, sedangkan sisanya adalah untuk pemenuhan gula konsumsi setara GKP. Penetapan neraca komoditas untuk impor gula konsumsi 2024, kata Arif, merupakan upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan stok dan stabilisasi harga.

Arif mengatakan, produksi gula di Thailand memang sudah mengalami penurunan sejak 2023 yang disebabkan oleh adanya cuaca kering dan El Nino.

“El Nino yang terjadi pada 2023, kebijakan pembatasan ekspor yang diberlakukan beberapa negara produsen, terganggunya produksi gula di Thailand dan konflik Laut Merah, berdampak kepada kelancaran arus barang hingga yang berpotensi mempengaruhi pasokan komoditi yang bersumber dari impor,” ujar Arif.

Namun, harga gula dunia dalam posisi yang sudah mengalami penurunan dari puncak tertinggi pada November 2023. Pada akhir Desember 2023, harga sempat mengalami penurunan hingga sekitar 34% dari harga November 2023.

Bahkan, kata Arif, harga gula internasional per tanggal 6 Februari 2024 masih lebih rendah sekitar 20% dibandingkan dengan harga November 2023.

Berdasarkan pantauan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per 6 Februari 2024, harga gula terpantau relatif stabil selama 3 bulan terakhir pada harga Rp17.700/kg dibandingkan harga bulan lalu. (*)

Bagikan:
Berita Terkait